Yogurt dan Pencegahan Kanker Usus Besar

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi yogurt atau produk susu fermentasi berhubungan dengan penurunan risiko kanker usus besar. Meski demikian, yogurt tidak bisa dijadikan satu-satunya upaya pencegahan, ia hanya bagian dari pola hidup sehat.

Beberapa studi selama lima tahun terakhir melaporkan bahwa orang yang rutin makan yogurt memiliki risiko kanker usus besar lebih rendah dibandingkan yang jarang atau tidak mengonsumsi yogurt. Konsumsi yogurt mampu menurunkan risiko sekitar 10–15%. Studi lain menunjukkan bahwa kandungan susu (seperti kalsium) memiliki kaitan dengan penurunan kanker usus besar.

Mengapa bisa demikian? Beberapa mekanisme yang memungkinkan
– Yogurt membawa bakteri baik (Bifidobacterium, Lactobacillus, dll) yang bisa mengubah keseimbangan mikrobiota usus menjadi lebih sehat, mengurangi bakteri yang menghasilkan zat berbahaya dan meningkatkan produksi metabolit menguntungkan seperti asam lemak rantai pendek yang menyehatkan sel lapisan usus.
– Produk fermentasi susu bisa mengurangi peradangan lokal di dinding usus, dan peradangan kronis adalah salah satu jalan menuju kanker.
– Kalsium dan komponen lain dalam produk susu dapat memodifikasi lingkungan usus sehingga menurunkan efek negatif dari zat karsinogenik.

Apa artinya untuk Anda?
– Tambahkan yogurt polos (rendah gula) sebagai bagian pola makan sehari-hari. Yogurt manis tinggi gula kurang ideal jika tujuan utama adalah kesehatan usus.
– Yogurt bukan pengganti pola makan sehat: tetap penting makan sayur-buah-biji-bijian, mengurangi daging olahan, aktif bergerak, menjaga berat badan, dan mengikuti skrining kanker usus besar sesuai usia.
– Jika Anda memiliki kondisi khusus seperti intoleransi laktosa berat konsultasikan ke dokter sebelum mengonsumsi secara rutin.

Kesimpulan
Konsumsi yogurt secara rutin dapat menjadi bagian dari upaya menurunkan risiko kanker usus besar. Tiap suap yogurt merupakan kontribusi kecil untuk usus yang lebih sehat. Namun ini bukan satu-satunya. Kombinasi pola makan, gaya hidup, dan skrining teratur tetap menjadi pondasi utama.


Penulis:
Dr. dr. Darmadi, SpPD, K-GEH
(Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara)

Sumber gambar: Getty Images

Daftar pustaka:

  • Ugai S, Liu L, Kosumi K, Kawamura H, Hamada T, Mima K, et al. Long-term yogurt intake and colorectal cancer incidence subclassified by Bifidobacterium abundance in tumor. Gut Microbes. 2025;17(1):2452237
  • Liang Z, Song X, Hu J, Wu R, Li P, Dong Z, et al. Fermented Dairy Food Intake and Risk of Colorectal Cancer: A Meta-analysis. Frontiers in Oncology. 2022:12:812679.
  • Sun J, Song J, Yang J, Chen L, Wang Z, Duan M, et al. Higher Yogurt Consumption is Associated with Lower Risk of Colorectal Cancer: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in Nutrition. 2022; 8:789006.
  • Pandey H, Tang DW, Wong SH, Lal D. Gut Microbiota in Colorectal Cancer: Biological Role and Therapeutic Potential. Cancers (Basel). 2023;15(3):866.
  • Zouiouich S, Wahl D, Liao LM, Hong HG, Sinha R, Loftfield E, et al. Calcium Intake and Risk of Colorectal Cancer in the NIH-AARP and other cohorts. JAMA Network Open. 2025; 8(2):e2460283.

 

Bagikan: